Pasuruan. Di tengah derasnya gempuran sepatu impor dan produk pabrikan berskala besar, sebuah semangat ekonomi kerakyatan terus bergeliat dari gang-gang kecil di Karangsono. Pabrik rumahan sepatu bernama “Reno”, milik Riw, menjadi salah satu bukti nyata ketangguhan industri mikro yang mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah persaingan ketat.
Sejak 13 Januari 2026, kisah tentang sepatu “Reno” mulai menarik perhatian. Beroperasi dari kediaman sederhana, Riw telah membangun reputasi bagi produknya yang khas dan berkualitas. Berbeda dengan sepatu impor yang seringkali mengandalkan volume produksi masal dan harga murah, sepatu “Reno” justru menonjolkan keunikan, ketelitian pengerjaan, dan material lokal yang dipilih secara cermat.
“Kami menyadari persaingan ini berat. Tapi kami punya keunggulan dalam hal detail dan sentuhan personal, ” ujar Riw, pemilik sekaligus pengrajin utama sepatu “Reno”. Ia menjelaskan bahwa setiap pasang sepatu yang keluar dari pabrik rumahan ini dikerjakan dengan tangan, memberikan sentuhan khas yang tidak bisa ditiru oleh mesin pabrik. Fokus pada kualitas dan desain yang sesuai dengan selera lokal menjadi strategi utama mereka untuk bersaing.
Keberadaan pabrik rumahan seperti “Reno” tidak hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga Riw, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar. Beberapa tetangga turut membantu dalam proses produksi, mulai dari pemotongan bahan hingga penjahitan, membuktikan bahwa ekonomi kerakyatan masih memiliki peran vital dalam menggerakkan roda perekonomian di tingkat akar rumput.
Meskipun menghadapi tantangan berupa ketersediaan bahan baku yang kadang fluktuatif dan minimnya akses permodalan, Riw optimis. Ia berupaya terus berinovasi dalam desain dan pemasaran, memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Kisah sepatu “Reno” dari Karangsono ini menjadi inspirasi bagi banyak pelaku UMKM lain untuk tetap berjuang dan menunjukkan bahwa produk lokal berkualitas tetap memiliki tempat di hati konsumen.

Updates.